Rasa takut adalah emosi negatif yang menimbulkan rasa cemas yang meresahkan hati. Setiap orang berbeda-beda bereaksi terhadap rasa takut. Reaksi tersebut biasanya ditandai oleh rasa khawatir, gelisah, was was, tidak tenteram, panik dan sebagainya. Namun sampai sebatas mana situasi jiwa berupa cemas itu dapat ditolerir oleh seorang individu sebagai kesatuan utuh. Karena seringkali “cemas” menimbulkan keluhan fisik berupa berdebar-debar, berkeringat, sakit kepala, mual-mual, histeris bahkan gangguan fungsi seksual dan beragam lainnya.
Rasa takut juga berhubungan dengan pikiran, memori, perasaan, atau kata-kata, seringkali rasa takut dan cemas dihasilkan oleh produk negatif pikiran kita dan lingkungan sekitarnya. Bila produk negatif pikiran tersebut telah menjadi suatu keyakinan tentu hal ini akan mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang. Ungkapan-ungkapan yang telah menjadi kebiasaan dari orang dewasa sekitar kita ketika kecil, misalnya ‘jangan nakal’, ‘nanti ditangkap polisi’, ‘jangan nangis terus’, ‘nanti panggil dokter biar disuntik’, ‘jangan bermain di tempat gelap nanti “kesambet” (diganggu setan)’, dan banyak lagi ungkapan lain yang mungkin bermaksud baik tapi dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap polisi, dokter dan dunia mistis.
Ungkapan-ungkapan seperti itu mungkin sudah dianggap ‘wajar’ oleh masyarakat kita, toh kalau sudah besar mereka akan mengerti sendiri bahwa itu hanya upaya untuk menyelesaikan masalah yang dianggap efektif, kalau anak tersebut sudah besar mereka akan mengerti sendiri.
Kekerasan verbal/psikis dan kekerasan fisik yang menimbulkan rasa takut terhadap anak justru dilakukan oleh orang-orang dekat di sekitar mereka. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tahun 2008 kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan ibu kandung mencapai 9,27 persen atau sebanyak 19 kasus dari 205 kasus yang ada. Sedangkan kekerasan yang dilakukan ayah kandung 5,85 persen atau sebanyak 12 kasus. Ibu tiri (2 kasus atau 0,98 persen), ayah tiri (2 kasus atau 0,98 persen).
Di dunia pendidikan juga tidak jauh berbeda, rasa takut, cemas, bahkan perbuatan tidak menyenangkan tersebut justru dilakukan oleh orang-orang dewasa yang berprofesi sebagai guru. Hasil survey yang dilakukan oleh Riyanto Adi (2006) peneliti dari Universitas Atmajaya, membuktikan bahwa 80% guru masih melakukan kekerasan terhadap anak didik di sekolah. Para siswa, berdasarkan survei, mengaku pernah dimaki, diusir, diejek, dibentak, dihina dan diancam, bahkan disumpah-serapahi guru mereka. Yang mengagetkan adalah pengakuan para guru bahwa sekitar 55% dari mereka pernah meminta muridnya untuk membersihkan WC sebagai bentuk hukuman.
Lebih lanjut Riyanto Adi mengatakan bahwa bentuk-bentuk kekerasan yang secara prosentase banyak diterima anak baik di rumah maupun di sekolah adalah : dipukul/disabet dan dicubit (kekerasan fisik); dicolek dan disingkap roknya (kekerasan seksual); dimarahi, diejek dan dimaki (kekerasan verbal/psikis). Diantara tiga kelompok bentuk kekerasan tersebut yang paling sering dialami anak adalah kekerasan verbal. Anak laki-laki pada umumnya lebih besar prosentasenya mendapat kekerasan fisik dibandingkan anak perempuan. Para pelaku utama berasal dari lingkungan dekat si anak, yakni orang tua, anggota keluarga (adik, kakak, tante, om, nenek, kakek), teman atau guru.
Perlakuan kekerasan yang diterima anak dapat memberikan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Anak yang mengalami kekerasan akan mendapat gangguan psikologis seperti anak merasa takut dan cemas, menjadi kurang percaya diri, rendah diri maupun merasa tidak berarti dalam lingkungannya sehingga tidak termotivasi untuk mewujudkan potensi-potensi yang dimilikinya.
.
TIDAK PANTAS UNTUK DIWARISKAN
Kekerasan fisik dan psikis yang pernah kita alami sewaktu kecil dulu tidak selayaknya kita wariskan kepada anak-anak yang kita cintai dan murid-murid yang kita sayangi. Yusef Hilmi, seorang motivator, pada seminar “Smart Parenting” mengatakan bahwa bila hati ini diibaratkan sebuah papan yang mulus dan bersih, setiap orang tua yang melakukan kekerasan, seperti halnya menancapkan sebuah paku pada papan yang bersih tersebut, semakin banyak kekerasan semakin banyak paku yang tertancap. Suatu ketika, orang tua tersebut menyadari perbuatannya dan menyesal melakukan kekerasan, hal ini ibarat mencabut paku dari papan yang telah dipaku tersebut, bila banyak penyesalan berarti banyak mencabut paku. Katakanlah semua paku sudah tercabut, apakah kemudian papan tadi bisa kembali mulus dan bersih?, jawabannya, tidak!, papan tersebut tetap terluka karena ada bekas lubang paku yang sudah tercabut.
Begitu juga hati manusia, bila ketika kecil sering mendapat perlakukan kasar dari orang-orang di sekitarnya, anak-anak tersebut tetap menyimpan luka, walaupun ilmu berpikir positif sudah dimilikinya ketika dewasa, tetap saja alam bawah sadar merasakan kondisi negatif yang pernah dialaminya tersebut.
Pendidikan adalah tempat strategis membangun anak bangsa yang cerdas seperti yang diamanatkan undang-undang. Guru merupakan kunci strategis dalam membangun mental spritual anak bangsa tersebut. Besar harapan kita guru-guru dapat memainkan peran strategis ini untuk mengubah pola pendekatan, yang tadinya pola ancaman diubah menjadi memberi semangat dan harapan, mengganti kekerasan menjadi kasih sayang. Dengan demikian kita akan mewarisi generasi yang cerdas, bermartabat dan berhati mulia. Semua itu dimulai dari orang tua dan peran para guru Indonesia.
.
Source : jokowahyono.com
Sebagai seorang wanita karir yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang padat, membuat waktu kita sangat terbatas untuk anak. Padahal inginnya kita bisa terus menerus dekat dengan si buah hati. tapi kira-kira bisa nggak ya waktu kita yang terbatas itu menjadi berkualitas? Dan mungkin nggak ya kita bisa menjadi orang tua yang efektif?
Suatu kali Imam Ghozali pernah berdialog dengan murid-muridnya seperti dibawah ini :
Di sebuah hotel tua berlantai 4 telah ditemukan mayat Professor Jacob. Detektif Andy Parker diminta untuk menyelidiki kasus tersebut.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah.


